Fokus

Sebut saja namanya Pak Sugal.
Suatu ketika dulu, saat penduduk di kampungnya belum berpikir tentang pentingnya asupan gizi yang cukup, ia membuat peternakan ayam. Bukan sekadar memelihara anak ayam untuk kemudian setelah beberapa bulan dipanen dagingnya, atau memelihara untuk diambil telurnya, ia juga membuat penetasan telur untuk mensuplai bibit. Pendek kata Pak Sugal menangani budidaya ayam mulai dari telur sampai kembali ke telur.
Usaha ternak ayam Pak Sugal tampaknya cukup berhasil. Jumlah ayam di kandangnya mencapai ratusan ekor. Penjualannya juga tidak repot. Pak Sugal tak perlu menjajakan sendiri. Seminggu sekali pengepul ayam datang membeli.
Di tengah usaha ternak ayamnya yang mulai menampakkan arah keberhasilan, entah apa alasannya, Pak Sugal membeli perlengkapan alat pertukangan. Ia membuka usaha mebel. Tetapi ternyata untuk usaha ini diperlukan tempat yang luas. Maka kandang ayamnya diubah fungsi, dan itu artinya peternakan ayam harus tutup.
Di bisnis mebel ini Pak Sugal menerima banyak pesanan. Sayang ia terkendala pasokan bahan baku. Kayu sulit didapat karena maraknya pemberantasan illegal logging. Pak Sugal seakan hanya melihat fatamorgana. Akhirnya ia berkesimpulan bahwa usaha ini tak bisa diteruskan. Semua mesin dan peralatan pertukangan dijual. Dengan harga murah tentu saja.
Uang hasil penjualan mesin dan alat pertukangan itu kemudian digunakan untuk membuat kolam ikan mas. Tak tahu dari mana ia mendapat ide buat kolam itu. Tempatnya dimana lagi, kalau bukan di bekas kandang ayam yang belakangan dijadikan tempat usaha mebel.
Ayam kandas, mebel pun tamat. Kolam ikan mas pun ternyata bernasib sama. Belum sampai sebulan sejak benih ikan ditabur, Pak Sugal berubah pikiran. Kali ini kakao yang mengguncang minatnya. Kolam ditimbun kembali. Di atasnya ditanam kakao.
Begitulah, Pak Sugal beralih dari satu usaha ke usaha lain tanpa satupun pernah benar-benar ditekuni. Ia tak pernah fokus pada tujuan dari setiap pekerjaannya. Akibatnya tak satupun dari usahanya itu yang mengantarkannya pada titik sukses.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*